Wahai Kaum Mager dan Rebahan, Bangkitlah!

Libur sekolah telah tiba. Saat yang ditunggu-tunggu oleh sebagian besar pelajar (atau bahkan semua)  sesudah bergelut mata pelajaran dan kegiatan sekolah selama satu semester. Sejenak mereka bisa beristirahat menikmati liburan, tentunya setelah melewati sesi “Pengajian Akbar” dari Ayah/Ibunya tentang nilai di buku rapor. Para orangtua pastinya juga menantikan saat preian ini, dimana ada waktu luang untuk mengajak putra-putrinya berlibur bersama keluarga. Gurunya sebenarnya pengennya juga gitu sih (kok jadi curhat).

Ada berbagai hal yang biasanya dilakukan siswa saat liburan. Mulai mudik ke desa, main sama teman sekitar rumah, ngecat rambut dengan warna-warni mencolok yang saat ini saya belum bisa menemukan sisi artistiknya, mungkin ingin niru bule (kalau bule masih pantas kulitnya cerah, lha anak-anak ini udah kulitnya gelap, wajahnya kumus-kumus, rambutnya seperti warna traffic light). Mbok ya macak biasa ae po’o rek!

Bagi anak yang lebih “beruntung”, ada yang diajak berwisata oleh orang tuanya. Ada yang ke luar kota misalnya, atau jalan-jalan ke mall, atau mungkin makan bersama keluarga di luar rumah. Maksud saya makan diluar rumah bukan di halaman atau di teras rumah, hehe, tapi di rumah makan/ depot/ restoran misalnya. Tetapi diluar itu semua, ada “kaum” liburan yang pastinya lebih banyak jumlahnya. Yap, “Kaum Mager dan Kaum Rebahan”.

Ilustrasi Kaum Rebahan. (Foto: https://malereivirginiao20.blogspot.com)

Bagi generasi jaman now istilah tersebut sudah menjadi istilah dan bahasa sehari-hari. Apa perlu saya jelaskan? Yasudah, berhubung yang baca website ini berasal dari semua kalangan, bukan hanya generasi jaman now saja, tetapi juga generasi jaman old, jaman Majapahit bahkan jaman Mesolitikum, maka sedikit saya jelaskan. Sedikit.

Mager” adalah sebuah singkatan dari “Malas Gerak”. Sedangkan Rebahan, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Rebahan dari kata dasar Rebah mempunyai arti bergerak dari posisi berdiri ke posisi jatuh atau terbaring. Jadi dua kata tersebut hampir memiliki makna yang identik. Kalau saya boleh memaknai secara bebas dan luas, Mager dan Rebahan adalah suatu aktivitas yang dilakukan dengan berbaring, santai-santai, leyeh-leyeh dan malas-malasan melakukan sesuatu yang mengharuskan beranjak dari tempat berbaring (malas gerak). Pertanyaannya sekarang, apa yang dilakukan remaja jaman now dengan rebahan? Hehehe. Jawabannya paling tidak jauh-jauh dari nge-game, main media sosial, chatting WhatsApp, lihat YouTube, mengoperasikan benda kotak ramping dengan layar sentuhnya. Gadget. Dan tidur.

Rebahan Menurut KBBI. (Foto: Kemdikbud)

Apakah rebahan adalah sesuatu hal yang jelek? Dan apakah main gawai/gadget itu dilarang? Hmm… Ya ndak juga. Gini lo, semua hal itu ada porsi, ukuran, dosis, keadaan, tempat dan waktu yang harus tepat. Contoh: makan, adalah hal yang tidak dilarang. Tetapi kalau kalian makan ditengah-tengah Jalan Kartini, ya dimaki banyak orang. Sholat Jum’at, adalah sesuatu yang sangat baik. Tetapi kalau kalian Sholat Jum’at di Hari Selasa, SESAT! Hehehee.

Begitu juga halnya dengan rebahan. Wajarnya, dilakukan untuk mengistirahatkan badan, sejenak. Bukan terus-terusan. Kalau kalian nggak ngapa-ngapain, lalu rebahan terus sepanjang hari, wah ya ini hati-hati. Penyakit. Bukan hanya penyakit fisik yang akan mengancam karena malas gerak, tetapi juga penyakit mental: MALAS!

Kanjeng Nabi Tidak Pernah Mengajari Malas. (Foto: Bhutek)

Sifat malas inilah yang menjadi awal dari negara api menyerang, eh maksud saya awal dari kemunduran, kebodohan, penyakitan. Malas gerak, fisik tidak sehat. Malas berfikir dan mengasah otak, tidak mempunyai kreatifitas. Padahal, inovasi, kreatifitas dan soft skill (kemampuan yang didapatkan diluar kemampuan teknis dan akademis) adalah hal penting yang menentukan kesuksesan seseorang di era revolusi industri 4.0 menuju 5.0 ini. Seperti yang dikatakan Menteri Pendidikan Kita, Mas Nadiem Anwar Makarim bahwa saat ini gelar tidak lagi menjamin kompetensi seseorang, maka dukungan terhadap kemerdekaan belajar sesuai bakat dan minat siswa sangat penting. (Lihat videonya disini).

(Foto: Berita Satu)

Begitu juga yang disampaikan oleh , Najwa Shihab. Presenter kondang yang mempunyai program media “Narasi TV” ini mengatakan bahwa remaja masa kini sudah tidak jamannya bercita-cita menjadi PNS atau karyawan perusahaan. Remaja masa kini harus mempunyai cita-cita pekerjaan yang kreatif, melakukannya dengan penuh passion, dan bukan lagi hanya follower yang selalu di belakang, tapi saatnya para anak muda di depan. (Selengkapnya baca Najwa Shihab: Remaja, Bercita – Citalah Menjadi Pekerja Kreatif)

Mengutip apa yang dikatakan Ibu Walikota Surabaya, Tri Rismaharini (alumni SMPN 10 Surabaya lho), bahwa sebenarnya semua anak terlahir cerdas. Tidak ada anak bodoh, yang ada adalah anak yang rajin dan anak yang malas (baca: Apresiasi Siswa Surabaya Berprestasi, Bu Risma: Tidak Ada Anak Bodoh, Yang Ada Adalah Anak Malas dan Anak Rajin). Howard Gardner dalam teorinya Multiple Intellegence mengatakan bahwa manusia mempunyai 9 kecerdasan atau kelebihan dimana kecerdasan tersebut digunakan manusia untuk memecahkan masalah dalam kehidupannya, kemampuan menghasilkan sesuatu atau menawarkan sebuah layanan yang dihasilkan dari kebudayaannya. Maka dari itu, tugas siswa (dan gurunya) adalah menemukan bakat masing-masing siswa untuk bisa dikembangkan dan dapat bermanfaat untuk orang lain. (baca: CEO Suara Surabaya: Guru Harus Kreatif Memanfaatkan Teknologi Untuk Menemukan Bakat Siswa Di Era 4.0).

Multiple Intellegence dari Howard Gardner. (Foto: diskusikehidupan.com)

Perspektif dari sisi agama (Islam) adalah, menurut pendapat penulis, hal ini sesuai dengan apa yang disabdakan Kanjeng Nabi Muhammad SAW:

خَيْرُ الناسِ أَنْفَعُهُمْ لِلناسِ yang artinya: “Sebaik Baik Manusia Adalah Yang Paling Bermanfaat Bagi Orang Lain” (HR. Ahmad). Dengan cara menemukan bakat, minat, lalu mengembangkannya menjadi sesuatu hal yang positif, kreatif inovatif, dan bermanfaat untuk orang lain. Profesi dan pekerjaan bisa juga termasuk di dalamnya.

Juga ada ungkapan yang masyhur pada ilmu Tasawwuf yakni: ُ

مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّه yang artinya: “Barang siapa yang mengenal dirinya, sungguh ia telah mengenal Tuhannya”. Dengan mengenal kelemahan dan kelebihan diri, termasuk bakat minat dan dia memberi kemanfaatan bagi orang lain, disitulah seseorang menemukan kebermaknaan hidupnya dan bersyukur, kagum, mengenal kebesaran Tuhan atas karunia yang diberikan-Nya.

Ilustrasi Hidup Harus Bermakna dan Bermanfaat. (Foto: Dimas)

Nah, tentang menggunakan gawai/gadget telah beberapa kali kita bahas pada tulisan sebelumnya. Saya bangga Lintang 9A menulis dengan sangat bagus poll mengenai bijak bermedsos. (baca: Lintang Ayu Prameswari: Remaja Harus Bijak Menggunakan Gawai dan Media Sosial) Juga ada Video Stop Hoax Bijak Bersosial Media yang menjadi Juara Favorit Nasional kompetisi video kreatif (baca: SMP Negeri 10 Surabaya Juara Favorit Kompetisi Video Kreatif Nasional).

Bapak Kepala Sekolah kita, Drs. M. Masykur HS, M.Si dan tim juga telah mencanangkan revolusi pembelajaran 4.0 di SMPN 10 Surabaya dengan menggunakan Microsoft Office 365 for Education (baca: SMP Negeri 10 Surabaya Siap Menuju Teknologi “Atas Awan”) per Januari 2020 dan juga sudah disosialisasikan kepada wali murid pada waktu penerimaan rapor kemarin (baca: Penerimaan Rapor Semester Ganjil, Abah Masykur Sosialisasikan Pembelajaran Revolusi 4.0 Kepada Wali Murid)

Saya tambahi pendapat dari saya. Sekali lagi, semua ada porsi, ukuran, dosis, keadaan, tempat dan waktu yang harus tepat. Menggunakan gawai/gadget juga begitu. Boleh-boleh saja asalkan tidak berlebihan, digunakan untuk hal bermanfaat. Apalagi pada waktu liburan begini, silahkan dipake main game, bermedia sosial, untuk refreshing dan rekreasi. Maknanya, setelah melakukan re-kreasi, berarti harus siap kembali ber-kreasi. Kalau kata Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) Rekreasimu harus kreatif, dan kreatiifitasmu harus menjadi rekreasi. Menikmati aktifitas yang bermanfaat sesuai kecerdasan bakat, passion dan minat kita.

Cak Nun: Rekreasi Harus Kreatif, Kreasi Harus Rekreatif. (Foto: Dian)

Kalau sedang rebahan (yang bermakna istirahat sejenak) ada juga kok hal positif yang bisa kalian lakukan. Minimal kalian bisa baca tulisan ini di web, klik like, komen dan sebarkan. Supaya dunia tahu kalau SMPN 10 Surabaya punya website keren dan selalu update. Dan kalian ikut bangga, walaupun gak ikut nulis, hanya modal baca klik share sambil rebahan. Heheheee. Tapi mulai sekarang yo belajaro nulis rek…

Jadi, Gaessss…  Hal Positif apa saja yang bisa kalian lakukan untuk mengisi liburan? Siap untuk berkarya? Berkreasi dan berinovasi? Menyambut semester baru dengan revolusi semangat baru? Tulis di kolom komentar ya, pendapat terbaik dan inspiratif akan saya beri hadiah.

Wahai Kaum Mager dan Rebahan, Bangkitlah!

Penulis : Dian Eko Restino/ @dian_eko_restino
Editor : Nazilatul Maghfirah/ @zila_fira
Publisher : Wid Dwi Bowo/ @tvpendidikan_official

22+

17 thoughts on “Wahai Kaum Mager dan Rebahan, Bangkitlah!

  1. Asiikkkkk…. Sambil rebahan sekaligus literasi ..
    Ayoooo beraksi, banyak tempat d surabaya yg bisa di eksplore, dengan berbagai museumnya dari museum kesehatan, museum kanker, museum bank indonesia, museum surabaya, dan museum pendidikan yang beberapa waktu lalu di resmikan.

    Atauuuuu keliling surabaya gratisss dgn suroboyo bus, ajak teman biar tambah asikkkk

    Atauuuuu cari tau kegiatan di gedung cak durasim atau pun gedung balai pemuda …..

    Lets explore surabaya !!!

    5+
    1. Idee yang sangat baguss dan educable bu wulann.. thanksss.. ayo anak2.. kita cari inspirasi dan refreshing mengisi liburan. Jangan lupa foto2 nanti ada give away foto liburan inspiratif

      2+
  2. Sangat menginspirasi
    Dengan adanya libur semester diharapkan dapat me-refresh tenaga dan pikiran. Selesai liburan jadi lebih semangat dan all out dalam sekolah/bekerja

    Banyak tempat di Surabaya yg bisa kita kunjungi.
    Ada banyak taman dan museum loh disini. Kalau pengen ngadem, ya nge-mall aja ..
    Apalagi transportasi di Surabaya sangat beragam. Mulai dari ojek online sampai naik bis Suroboyo, cukup bayar dengan plastik bekas, kita udah bisa keliling kota…
    Enak tooo
    Sedap tooo

    Met liburan semuanyaaaa
    #banggadadiareksuroboyo

    2+
  3. Website ini selain utk menunjukkan berbagai kegiatan di Spenlusa juga utk sarana menyalurkan bakat guru & siswa dalam menulis. Sangat bermanfaat. Semoga semakin sukses di masa depan. Aamiin.

    2+

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *