Survei Pembelajaran Daring SMPN 10 Surabaya di Masa Darurat Covid-19 Kepada Orangtua Siswa. Dan Inilah Hasilnya!

Tahun Ajaran 2019 – 2020 telah berakhir. Para pelajar dan pendidik dari tingkat TK sampai perguruan tinggi harus melalui separuh semester genap ini dengan School From Home (Pembelajaran dari Rumah), begitu juga dengan SMP Negeri 10 Surabaya. Sabtu (20/6/2020) hampir semua pelajar di Indonesia telah menerima rapor semester genap, status kenaikan kelas dan kelulusan, tentunya dengan rapor dan Wisuda Purnawiyata daring (online). Hal ini juga sekaligus menandakan Semester Ganjil Tahun Ajaran Baru 2020 – 2021 akan segera tiba. New Norma(l) Pendidikan dengan penerapan protokol kesehatan untuk mencegah perluasan pemaparan Covid-19. Dan sepertinya, masih dengan metode daring.

Baca juga:

New Normal Bidang Pendidikan, Perlu Peran Besar Orangtua

Setelah melakukan survei kepada siswa, tim Penelitian dan Pengembangan Bimbingan dan Konseling (Litbang BK) SMP Negeri 10 Surabaya juga telah melakukan survei kepada orangtua tentang pembelajaran daring di masa darurat Covid-19. Survei ini dilaksanakan pada Mei – Juni 2020 dan diikuti oleh 611 orangtua/ wali murid dengan menggunakan kuesioner google form. Tujuan diadakannya survei ini adalah untuk memotret respon dan tanggapan dari orangtua tentang pembelajaran online dari rumah.

Baca juga:

Survei Pembelajaran Daring SMPN 10 Surabaya di Masa Darurat Covid-19. Inilah Hasilnya!

Survei online ini direspon oleh 49,7% (303) orangtua yang berusia diantara 36-45 tahun, 37,4% (228) berusia antara 46-55 tahun, sedangkan usia <35 tahun dan >56 tahun berada pada prosentase 6,2% (38) dan 6,7% (41). Sedangkan profesi atau pekerjaan responden, sebagian besar adalah sebagai karyawan/ pegawai kantor swasta (32%/195), Ibu Rumah Tangga (22,3%/136), wiraswasta (21,6%/132) dan buruh harian (10,8%/66). Profesi/ pekerjaan yang lain adalah Free Lance (5,7%), TNI/Polri (3%), PNS (2,8%) dan karyawan/pegawai kantor dinas (non PNS). Dan tempat bekerja responden sebanyak 66,4 % atau 405 orangtua bekerja di luar rumah, 33.6% atau 206 bekerja di rumah.

Data yang mungkin harus lebih diperhatikan dari hasil survei ini adalah tentang penghasilan orangtua sebelum dan saat wabah Covid-19. Sebelum wabah Covid-19, penghasilan rata-rata orangtua perbulan adalah 168 responden (27,5%) sebanyak 1-2 juta rupiah, 23,3% atau sebanyak 142 responden berpenghasilan 2-3 juta rupiah. 113 responden (18,5%) mempunyai penghasilan kurang dari 1 juta, 88 responden (14,4%) 3-4 juta rupiah. Yang berpenghasilan 4-5 juta sebanyak 9,2% (56), sisanya yaitu 7% atau 43 responden berpenghasilan lebih dari 5 juta rupiah.

Lalu, menurut hasil survei, penghasilan orangtua pada saat terjadi wabah Covid-19 terjadi penurunan yang sangat signifikan. Sebanyak 45,7% atau 279 responden mengaku mendapatkan penghasilan perbulan dibawah 1 juta rupiah. 139 responden atau setara 22,8% berpenghasilan 1-2 juta rupiah, 13% (79) mendapatkan 2-3 juta rupiah, dan di kisaran 3-4 juta sebanyak 9,5% (58). Sisanya, 5,9% (36) 4-5 juta rupiah dan 3,1% ( 19) mempunyai penghasilan 5 juta lebih.

Hal ini linier dengan hasil data berikutnya, yakni sebanyak 266 responden (43,6%) mengatakan pendapatannya menurun dan tetap bekerja normal. Sedangkan 23,8% (145) tetap bekerja normal, 107 dirumahkan sementara tanpa gaji (17,5%), dan 9,2% (56) dirumahkan sementara dengan gaji berkurang. Sedangkan 23 responden atau sekitar 23 orangtua terkena PHK dan hanya 13 responden (2,1%) yang dirumahkan sementara dengan gaji penuh.

Baca juga:

“Teknologi Adalah Penunjang, Bukan Pengganti Guru (Refleksi Hari Pendidikan Nasional 2020)”

Menariknya, separuh lebih yaitu 57,2% orangtua (349) mengaku tidak merasa berat dengan sistem pembelajaran online. 35,4% responden atau sejumlah 216 orangtua mengatakan cukup berat dan sisanya, 45 orang atau 7,4% merasa sangat berat dengan sistem belajar daring ini. Namun uniknya, dalam hal orangtua memfasilitasi pembelajaran online bagi anaknya, hampir separuh orangtua mengatakan berat dalam pembelian kuota internet, yaitu sebanyak 49.5% atau 302 responden. 223 responden lain atau 36,6% berpendapat tidak merasa berat memfasilitasi. 32 responden (5,2%) anak dalam kondisi tidak mempunyai gawai yang memadai, 17 responden (2,8) gawai dalam kondisi rusak, dan 12 responden (2%) anak tidak mempunyai gawai.

Kemudian, 210 orangtua atau sebesar 34,4% selalu mendampingi belajar online anaknya. 33,3% atau 203 responden jarang mendampingi belajar anaknya, 166 (27,2%) responden sering mendampingi, dan 31 responden (5,1%) tidak pernah mendampingi. Para orangtua menyebutkan yang paling memberatkan dalam mendampingi putra-putrinya belajar adalah kurang memahami materi pelajaran anak (31,3%/191 responden), tidak merasa berat mendampingi sama sekali (20,7%/126), kurang memahami teknologi (18,4%/112), anak sulit bangun pagi (13,6%/83), dan orangtua sibuk bekerja (13,4%/82).

Nampaknya para orangtua semakin menyadari pentingnya peran guru dalam pendidikan formal putra-putrinya. Karena, sebanyak 83.6% orangtua atau 510 responden menjawab peran guru tidak bisa digantikan dengan teknologi, sedangkan 14,9% lainnya (91 responden) menjawab sebaliknya. Dalam survei ini juga memuat jawaban terbuka berupa saran dari orangtua kepada sekolah dan dinas pendidikan terkait pembelajaran online ini.

Saran-saran tersebut diantaranya sebagai berikut:
”Harus ada metode khusus agar materi yang disampaikan lebih informatif, jelas dan mudah dipahami siswa”.
”Pembelajaran melalui online cukup bagus, bagi yang memiliki hp yang memadai, namun terbentur dengan masalah pembelian kuota”.
”Bagus tapi sebaiknya masih ada pembelajaran secara tatap muka karena komunikasi langsung dengan para guru akan membentuk anak memiliki tokoh yg diidolakan, baik tentang intelegensi ataupun moral dan norma yg sangat dibutuhkan untuk pembentukan karakter yg sholeh sholeha santun dan berbudi luhur sebagai penerus bangsa”.
”Pembelajaran online sebetulnya baik tetapi tolong diperhatikan untuk siswa dari keluarga kurang mampu agar diberikan fasilitas kuota internet”.
”Untuk pembelajaran online kalo bisa pemkot memfasilitasi kuota gratis kepada siswa”
”Saya bangga anak saya sekolah di SMPN 10, karena walau keadaan lockdown tapi tetap memprioritaskan pelajaran bagi anak-anak, guru-gurunya sangat perhatian. Terimakasih SMPN 10.

Dalam survei ini, tim Litbang BK juga meminta siswa dan orangtua untuk mengisi angket survei tersebut secara bersama-sama, kemudian siswa mengunggah foto bersama orangtua. Inilah potret kebersamaan antara orangtua dan siswa dalam mengisi survei tersebut:

Kolase foto siswa bersama orangtua dalam mengisi survei.

Jurnalis : Dian Eko Restino/ @dian_eko_restino
Editor : Nazilatul Maghfirah/ @zila_fira
Publisher : Wid Dwi Bowo/ @tvpendidikan_official

17+

One thought on “Survei Pembelajaran Daring SMPN 10 Surabaya di Masa Darurat Covid-19 Kepada Orangtua Siswa. Dan Inilah Hasilnya!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *