Review Video: Pacaran Boleh??

Hai sahabat pendidikan, jumpa lagi di website resmi SMP Negeri 10 Surabaya. Kali ini saya akan mereview video “Pacaran Boleh??” dari Dian Eko Restino, S.Pd, Gr selaku guru Bimbingan dan Konseling (BK) di SMP Negeri 10 Surabaya. Finally, kami berharap pembaca tertarik dengan ulasan mengenai video yang dikemas dengan model talkshow berjudul “Pacaran Boleh??” ini (video selengkapnya ada di akhir artikel ini). Are you ready ? Happy reading guysss!

Pacaran, trend yang sudah mencuat di kalangan remaja, dan dewasa. Wajar bila seusia mereka mengalami kelabilan, pubertas atau rentan dengan bucin (budak cinta), istilah keren jaman now. Bahkan anak SD pun sudah mengenal istilah pacaran. Apa sih pacaran itu?, Apakah lumrah pacaran itu? Apakah boleh pacaran? Apa dampak dari pacaran? Apakah alasan pacaran sebagai motivasi, atau penyemangat dibenarkan? Begitu bejibun pertanyaan bla… bla… yang lain tentang pacaran.

Baca juga: ”Merayakan Valentine’s Day???

Dewasa ini, bukanlah hal yang baru lagi ketika kita melihat usia remaja dipinggir jalan, cafe, taman, wahana rekreasi, bahkan sekolah. Seakan tidak segan mereka berduaan di tempat umum, dibalik sebuah nama yang katanya mereka itu jalinan asmara yang disebut “Pacaran”.

Sangat dibenarkan pernyataan dari Dian Eko Restino, S.Pd, Gr ketika berbincang-bincang santai dengan siswanya, bahwa definisi  pacaran adalah sebuah proses  dari seorang laki-laki dan perempuan untuk mencari sebuah kecocokan  tapi tujuan akhirnya adalah pernikahan. “Namun pacaran sekarang tidak dimaksudkan/tidak  ditujukan dengan menikah, kita lihat usia remaja, apakah  remaja sekarang mau menikah? Contoh anak SMP /SMA mereka  hanya untuk kesenangan”, ucap Dian Eko Restino mengawali videonya.

Talkshow ”Pacaran Boleh??” dari Dian Eko Restino (Foto: instagram @wajah_spenlusa)

Sedihnya lagi budaya pacaran bahkan sudah menancap dan berakar  pada  anak usia belia yang masih berseragam merah putih, putih biru dan abu-abu. Anak jaman sekarang menyalahgunakan arti pacaran, sangat miris sekali. Apalagi dengan perkembangan jaman dan teknologi yang semakin maju, pengaruh dari luar sangat mudah masuk ke Indonesia mulai melalui sosmed, atau film-film yang tidak mendidik dan tidak di filter. Akhirnya banyak yang ikut-ikutan terjerumus, padahal pacaran itu merupakan gerbang yang ujungnya akan mendekatkan pada hal-hal yang tidak baik (pergaulan bebas).

Dalam video yang dibawakan oleh 2 host ini, yaitu Mercia Meixi dan Guseynova, menerangkan bahwa tujuan pacaran anak sekarang sebenarnya hanya untuk kesenangan diri, senang dalam artian apapun akan dilakukan, tidak peduli mereka melanggar aturan atau tidak. Pokoke seneng. Mungkin melanggar nasihat orang tua, karena ikut-ikutan (banyak temannya yang pacaran agar sama dengan yang lain) akhirnya juga mencari pacar, malu karena merasa rendah diri jika dikatakan jomblo, dibully. Tapi diantara semuanya, hanya untuk kesenangan saja. Hayooo siapa yang di sini pacaran karena malu disebut jomblo?

Baca juga: ”Dampak Pornografi Pada Anak, Sepele? Anda Salah Besar!

Beberapa alasan mereka juga supaya ada yang menjadi penyemangat belajar, agar  ada yang memperhatikan dan mengingatkan dalam ibadah. Tapi semua alasan itu bisa dipatahkan oleh argumen Dian Eko Restino. Beliau mengatakan dengan gaya guyonannya, “Shalat kok diingatkan, shalat sudah ada yang mengingatkan yaitu Adzan. Adzan adalah sebagai pengingat dan panggilan kita untuk beribadah menghadap Allah. Jadi tidak perlu pacar untuk mengingatkan shalat. Emangnya TOA masjid?”.  

Pada fase usia remaja memang lumrah untuk suka pada lawan jenis, karena mereka diberikan kodrat untuk suka pada lawan jenis oleh Allah, tertarik pada lawan jenis, tetapi usia remaja seperti mereka masih belum punya modal untuk menjalin hubungan dari segi kedewasaan, emosi  masih ABG labil. Remaja belum punya bekal untuk berhubungan dengan lawan jenis. Maka rasa suka itu ditahan dulu, tidak dilampiaskan dengan cara pacaran. Sebenarnya kasih sayang remaja itu cukup dari orangtua. Jika remaja sudah merasa cukup perhatian dari orangtua, mereka tidak akan mencari perhatian dari orang lain, apalagi pacar. Mungkin sebaiknya mencari teman sebanyak – banyaknya.

Talkshow dipandu oleh 2 host dari siswa, Mercia dan Guseynova. (Foto: instagram @wajah_spenlusa)

Dari segi psikologi, dampak negatif dari remaja yang pacaran dini lebih berisiko stres, depresi dan frustasi yang pastinya kita tahu kalau sudah depresi hal apa yang bakalan dilakukan? Bunuh diri, atau mungkin gila. Dr. Isabelle Tremblay, seorang peneliti dari Universitas de Montreal serta Dr. Michael Sullivan, seorang profesor psikologi dari universitas McGill telah melakukan study untuk mengetahui pengaruh menjalin hubungan sejak dini terhadap kesehatan seseorang.

Sebanyak 382 pelajar remaja berumur rata-rata 12 s/d 17 tahun di Kanada direkrut sebagai partisipan penelitian, mereka diminta untuk mengisi kuesioner tentang frekuensi dan intensitas mengalami gangguan emosi serta fisik dan juga usia awal mengenal cinta. Hasilnya, seseorang yang mengenal cinta lebih dini cenderung menjadi pribadi yang rapuh, sakit-sakitan, merasa tidak aman dan mudah depresi, Frustasi. “Gejala itu berkembang dari sejak masih kanak-kanak lalu remaja dan akhirnya ketika dewasa,” ujar Sullivan seperti dilansir www.sciencedaily.com, Kamis, 26 November 2009.  

Pacaran anak jaman now cukup mengkhawatirkan, karena obsesinya untuk melampiaskan hasrat dan kesenangannya sendiri. Pacaran yang dicontoh adalah ala-ala budaya barat , yaitu  pergaulan cenderung bebas, pegang tangan, peluk, cium dan bahkan melebihi itu. Pacaran itu merusak, sudah dijelaskan Dian Eko Restino di dalam video yang di-upload channel YouTube ”TV pendidikan” ini, misalnya berita tentang hamil diluar nikah, 99% pasti diawali dari pacaran. Berapa persen remaja sudah kehilangan keperawanannya karena pacaran.

Baca juga: ”Penerapan Penguatan Pendidikan Karakter Di SMP Negeri 10 Surabaya Melalui Contoh Kongkrit (2)

Pacaran pasti juga bisa mengakibatkan konflik, perselisihan. Akhirnya apa yang akan  terjadi? Pertemanan rusak, frustasi, galau. Tidak semangat menjalani sekolah, hidup, dan aktifitas sehari-hari. Resiko penyakit menular pun rentan terjadi, seperti HIV, Sipilis, akibat pergaulan bebas.

Video ini memberikan kesimpulan yang sangat menarik. Secara keseluruhan, isi video ini memantik para remaja untuk berfikir logis. Apakah pacaran itu boleh? Dalam video ini, Dian Eko Restino menjawab BOLEH. Tapi tunggu dulu, semua kembali ke definisi awal tadi. Tujuan pacaran adalah untuk menikah. Jadi jika sudah berencana atau berkeinginan untuk menikah lalu pacaran dengan batas-batas tertentu, maka itu boleh. Tolak ukurnya adalah kesiapan berencana menikah. Berarti jika ada seseorang yang pacaran, maka dia juga harus siap menikah.

Lha misale arek SMP, terus pacaran, mosok yo kate menikah? (Misalnya ada anak SMP, pacaran, masak akan segera menikah?) Kan masih jauh sekali. Anak SMP kok mikir jodoh itu gimana? Itu kan belum saatnya menjadi pembahasan kalian (usia remaja)”, kata Dian Eko Restino menyimpulkan video.

Berikut video lengkapnya:

Video Lengkap talkshow ”Pacaran Boleh??” (Video: YouTube – Tv Pendidikan)

Gimana Guys setelah baca artikel ini, apa masih mau pacaran? Tidak mungkin kan seusia kalian mau menikah dini. Heheee. Semoga bermanfaat buat kalian semua. Sampai jumpa….

Jurnalis: Nazilatul Maghfirah/ @zila_fira
Editor: Rahayu/ @rahayupinter
Publisher : Wid Dwi Bowo/ @tvpendidikan_official

21+

18 thoughts on “Review Video: Pacaran Boleh??

  1. Pacaran pasti juga bisa mengakibatkan konflik, perselisihan. Akhirnya apa yang akan terjadi? Pertemanan rusak, frustasi, galau. Tidak semangat menjalani sekolah, hidup, dan aktifitas sehari-hari. Resiko penyakit menular pun rentan terjadi, seperti HIV, Sipilis, akibat pergaulan bebas.

    1+

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *