Opini: Mengolah Bahasa Tulisan

Halo sobat pendidikan di seluruh tanah air, semoga senantiasa diberi anugerah kesehatan dan kebahagiaan dimanapun Anda berada. Kali ini kita akan membahas mengenai “Mengolah Bahasa Tulisan“, dari Bapak Much. Khoiri. Beliau adalah penggiat literasi, penulis buku, dosen dan juga Kepala Satuan Humas Universitas Negeri Surabaya (UNESA). Buku pertama saya, yaitu “Selaksa Asa Menjadi Nyata” juga tak lepas dari campur tangan beliau sebagai editor.

Baca juga: Yulistiawati, S.Pd. Guru IPS SMP Negeri 10 Surabaya Luncurkan Buku “Selaksa Asa Menjadi Nyata”

Tulisan beliau ini sangat cocok untuk para pembaca yang ingin belajar tentang kepenulisan. Dan inilah tulisan beliau, tentang Mengolah Bahasa Tulisan:

Mengolah Bahasa Tulisan
Oleh: MUCH. KHOIRI *

Untuk para sahabat yang mengirimkan tulisan (bahkan draf buku) kepada saya, saya kerap mendapati mereka yang kurang teliti dalam berbahasa. Untuk kesalahan minor, saya mudah memberi masukan. Namun, untuk mayor, mereview-nya bisa menyebabkan kepala retak. Tak jarang, saya komentari begini, “Kali lain, mohon cermati kalimat sampean dengan teliti sebelum dikirim.” Jika jarak terjangkau, mereka malah saya ajak ngopi dan ngobrol tentang mengolah bahasa. Sungguh, itu penting.

Mengekspresikan gagasan, perasaan, atau pengalaman bisa ditempuh lewat bahasa lisan atau bahasa tulis. Saat ini saya tidak akan membahas perbedaan dua jenis bahasa (re)produktif itu. Secara khusus saya akan membahas tentang mengolah bahasa tulisan kita.

Karena bahasa tulisan kita masih bisa diperbaiki setelah kita menulis sesuatu (semisal artikel opini), rasanya wajib bagi kita untuk bisa mengolah bahasa tulisan kita. Mengapa bahasa tulisan kita perlu kita olah selama dan setelah proses pembuatan draf tulisan?

Perbedaan mendasar bahasa tulis dan bahasa lisan adalah bahwa terhadap bahasa tulis yang kita buat, kita masih berkesempatan untuk mengolahnya terlebih dahulu sebelum kemudian diserahkan kepada pembaca. Jika dalam bahasa lisan kita tidak dapat merevisi kalimat-kalimat kita, bahasa tulis memungkinkan kita merevisi dan menyempurnakannya.

Bagaimana pun, bahasa itu merepresentasikan atau mewakili gagasan kita. Bahasa itu wadah bagi gagasan kita. Language and mind (bahasa dan pikiran) tak terpisahkan. Jika kata-kata yang kita tuangkan belum mewakili gagasan kita, kita harus melakukan koreksi atau revisi terhadap kata-kata tersebut.

Sementara itu, kita sadar, bahasa apakah yang paling tepat mewakili gagasan kita ketika membuat artikel opini, cerpen, puisi, feature, atau dongeng? Penulis yang berpengalaman pastilah paham bagaimana bahasa yang digunakannya telah mewakili tuntutan gagasan dan genre tulisan.

Apa yang perlu kita olah dalam bahasa tulisan kita? Setidaknya, kita harus memeriksa tatabahasa, diksi (pilihan kata), dan gaya bahasa. Pertama, tata bahasa wajib kita periksa apakah kalimat-kalimat kita mengandung relasi subjek-predikat secara benar. Meski ada kalimat-kalimat panjang, struktur atau pola subjek-predikat harus jelas tampaknya. Tanpa kejelasan ini, kalimat kita bisa mengundang kesalahpahaman.

Sebagaimana bahasa-bahasa lain di dunia, bahasa Indonesia juga mengandung pola relasi subjek-predikat (malah, plus objek dan keterangan). Termasuk di dalamnya kalimat pasif. Sebagai penegak bahasa Indonesia, kita perlu menerapkan kaidah-kaidah bahasa itu selama menulis. Sedapat-dapatnya kita berbahasa Indonesia dengan baik dan benar.

Dengan demikian, jika kalimat kita masih berupa klausa (meski panjang), kita harus segera menyusunnya menjadi kalimat bersubjek-berpredikat. Dengan relasi subjek-predikat yang jelas, pembaca akan mudah memahami tentang siapa melakukan apa dan itu mempengaruhi konstruk pikirannya.

Bapak Much. Khoiri Bersama Ibu Yulistyawati, Penulis Buku “Selaksa Asa Menjadi Nyata”

Kedua, kita harus mengolah diksi yang kita gunakan. Tatkala menuangkan gagasan dalam suatu tulisan, mungkin kita telah menggunakan kata tewas untuk menyebut meninggalnya seorang kiai. Tentu saja, itu kurang pantas, alias tidak tepat konteksnya. Untuk itu, kita perlu mengolahnya menjadi wafat. Secara kontekstual, pemakaian wafat lebih tepat daripada tewas meski kenyataannya pak kiai itu memang meninggal dunia.

Karena diksi itu mewakini gagasan kita, suasana bathin kita, itulah mengapa diksi tulisan kita bisa digunakan oleh orang lain untuk menilai (baca: membaca) suasana pikiran, perasaan, atau pengalaman kita. Kebahagiaan, kesedihan, kegeraman, kemarahan, dan sebagainya tercermin dari diksi yang kita pilih. Karena itu, waspadalah dalam memilih diksi.

Ketiga, gaya bahasa (style) dalam tulisan. Jika kita menulis artikel ilmiah, kita wajib mengolah bahasa yang kita gunakan ke dalam gaya bahasa ragam resmi ilmiah. Kita juga harus menggunakan diksi-diksi konseptual (mengandung konsep/pengertian) dalam paparan tulisan kita. Jika kita menulis artiel ilmiah dengan gaya mendongeng, inilah yang melanggar “kepatutan” berbahasa.

Bagi kita yang terbiasa menulis artikel ilmiah, perlu alih gaya ( style switching) ke semi-ilmiah (populer) ketika menulis artikel opini untuk media massa. Sebaliknya, bagi kita yang setiap hari bergelut dalam dunia jurnalistik, perlu alih gaya ke ilmiah ketika menulis makalah ilmiah atau tesis. Masing-masing perlu perjuangan tersendiri.

Sementara itu, jika kita membuat catatan perjalanan untuk anak SD, kita harus memilih gaya tulisan yang lincah dan non-resmi; agar dinilai enak dibaca dan perlu. Sebaliknya, ketika kita menulis karya kreatif semisal cerpen atau puisi, kita juga wajib menaati kaidah-kaidah penulisan cerpen atau puisi. Artinya, bahasa cerpen atau puisi berbeda gayanya dibanding artikel ilmiah.

Tentu, beruntunglah orang yang mampu menulis dalam berbagai gaya. Tipe orang ini mampu menulis gaya tulisan yang beraneka ragam sesuai tuntutan audiens atau media. Adalah Setiawan G. Sasongko, seorang penulis prolifik asal Klaten ini, yang telah menulis puluhan buku untuk anak-anak, remaja, dan orang dewasa. Dia bisa menulis dengan berbagai gaya. Sebagai contoh, dia bergaya anak-anak dalam Kepak Sayap Merpati (2005), bergaya remaja dalam Trik Jitu Menulis Cerita Remaja (2012), dan bergaya dewasa dalam buku Kartun sebagai Media Dakwah (2005).

Begitulah, mengolah bahasa tulisan kita harus kita lakukan sendiri sebelum menyerahkannya kepada orang lain, atau mengirimkannya ke media massa. Problemnya, tidak semua dari kita menyadari betapa pentingnya mengolah bahasa tulisan ini. Masih cukup banyak yang berpendapat bahwa bahasa lisan dan bahasa tulis adalah sama persis; padahal keduanya berbedameski ada kesamaannya.

Mengolah bahasa tulisan kita memang bukan pekerjaan sederhana dan tidak bisa dilaksanakan sepintas lalu. Tidak! Untuk memperoleh tulisan yang berkualitas, selain bobot isi dan organisasinya, kita harus mencermati bahasa yang digunakan dan mengolahnya dengan benar pula.

Kini, agaknya kita perlu menyimak ungkapan Somerset Maugham ,”All the words I use in my stories can be found in the dictionary – it’s just a matter of arranging them into the right sentences.” (Seluruh kata yang saya gunakan dalam cerita-cerita saya dapat ditemukan di dalam kamus. Ini hanya masalah menyusun mereka ke dalam kalimat-kalimat yang benar.)”

*Much. Khoiri adalah penggerak literasi, trainer, editor, dan penulis 34 buku dari Unesa Surabaya. Artikel ini pendapat pribadi.

Jurnalis : Yulistiawati/ @yulistyawati_
Editor : Dian Eko Restino/ @dian_eko_restino
Publisher : Nazilatul Maghfirah/ @zila_fira

6+

One thought on “Opini: Mengolah Bahasa Tulisan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *