Merayakan Valentine’s Day???

Perlu saya sampaikan di awal, bahwa tulisan ini saya khususkan terutama untuk anak-anakku siswa-siswi SMP Negeri 10 Surabaya, dan kepada pelajar, pemuda, remaja pada umumnya. Atas dasar iktikad baik tentang kemanusiaan, cinta dan kasih sayang.

Mungkin tidak asing lagi bagi kita jika setiap mendekati tanggal 14 Februari kebanyakan dari kalangan remaja dan dewasa sibuk sekali mempersiapkan perayaan “ Valentine’s Day”. Valentine’s Day menjadi kosa kata paling laris manis yang banyak dibahas, hiruk pikuk remaja memperbincangkan Valentine seakan begitu spesial untuk merayakannya. Pernak-pernik valentine semakin menyemarak mulai dari coklat, boneka, ataupun bunga.

Karena saya adalah seorang guru yang dalam hal ini adalah seorang pendidik dan juga seorang muslim, maka pertama-tama jelas saya akan memandang peristiwa ini dari persfektif hukum Islam. Pandangan ini wajar adanya karena jika kita meninjau sesuatu dari kacamata hukum, maka hukum akan selalu berusaha untuk menunjukan kebenaran dan mengatakan kebenaran itu ”Qulil haqqa walau kana murran”. Katakanlah kebenaran walau itu terasa pahit. Tapi sebelumnya mari kita kaji sedikit saja tentang sejarah dari Valentine’s Day.

Di salah satu versi, sejarah perayaan Valentine pertama kali dirayakan adalah oleh kaum Romawi, yang dirayakan antar tanggal 13-18 Februari. Mereka mengatakan perayaan ini adalah perayaaan Lupercalia, yaitu saat untuk mengerahkan dewa-dewi kesuburan untuk berbahagia (monggo di intrpretasikan sendiri kalau ada kata dewa-dewi kesuburaan arahnya kemana, Hehehe) dan dalam sejarah tercatat peringatan ini dilanjutkan oleh gereja Katolik Roma sebagai hari cinta kasih dan persahabatan.

Ilustrasi: Merayakan Valentine? (Foto: wallpaperaccess,.com)

Lantas apa yang salah? Memang jika dilihat dari kosa katanya tidak ada yang salah, jika kita hanya melihat dari segi konteksnya saja, karena sebagaimana kita tahu dalam islam pun Allah tidak mengharamkan Cinta. Bahkan Allah sendiri adalah dzat yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Ar-Rahman dan Ar-Rakhim. Apalagi Allah pun telah mengatur dan mengarahkan dengan baik tentang cinta itu sendiri. Akan tetapi, jika kita menilik dari asal-usul perayaan dan konteks asalnya, maka kalau kita merayakannya maka kita adalah termasuk malakukan Tasyabbuh, seperti dalam hadist dikatakan “Man Tasyabbaha  bi qoumin fahuwa minhum”. Barang siapa yang mencontoh apa yang dilakukan oleh satu kaum maka kita bagian dari kaum itu.

Padahal jika kita meruntut tarikh (sejarah) Islam, ada momentum dahsyat semacam Valentine yaitu yang bernama “Yaumul Marhamah”, hari kasih sayang. Momentum ini bertepatan dengan Fathu Makkah (Pembebasan Kota Mekkah) yang diabadikan dalam Al-Qur’an sebagai Fathan Mubina, kemenangan yang nyata, yakni kaum muslimin yang dipimpin oleh Rasulullah berhasil menaklukan kembali kota Mekkah pada tanggal 10 Ramadhan tahun 8 Hijriyah. Dan jika kita ingin memperingati (bukan merayakan) Hari Kasih Sayang, tanggal 10 Ramadhan lah momennya.

Waktu itu, kaum Quraisy berhasil dikalahkan. Mekkah berhasil ditaklukkan dari tangan kaum Quraisy tanpa pertumpahan darah sedikitpun. Kaum Quraisy, yang pada saat itu sebagai tawanan, merasa sangat ketakutan. Seolah mereka hanya tinggal menunggu dieksekusi pasukan muslimin. Tetapi Rasulullah malah memberikan ampunan massal kepada semua tawanan. Hal luar biasa yang dilakukan Sang Rasul, mungkin mengagetkan sekaligus menyenangkan bagi kaum Quraisy, dikala mereka seperti hanya sejengkal dengan maut.

Ilustrasi: Fathu Makkah. (Foto: darunnajah.com)

Rasulullah bersabda: ”Inna hadza laisa yaumil malhamah, walakinna hadza yaumul marhamah, wa antumut thulaqa”…. (Hari ini bukan hari pembantaian, tetapi hari ini adalah hari kasih sayang, dan kalian semua bebas merdeka…..

Tidak hanya itu, selain dibebaskan, kaum Quraisy bahkan juga diberikan ghanimah (harta rampasan perang), perhiasan dan unta. Padahal kaum muslimin sendiri tidak dapat bagian apapun, sehingga banyak dari para sahabat yang heran karena Rasulullah tidak memberi bagian harta kepada kaum muslimin yang setia berjuang bersama Rasulullah. Kemenangan dan ghanimah sudah di depan mata, eee mereka malah dilepaskan begitu saja. Dikasih sangu pula.

Dan keheranan itu dijawab oleh Rasulullah: ”Sudah berapa lama kalian mengikutiku? Apakah sejauh ini aku tidak mencintai kalian? Mana yang kalian pilih, harta rampasan perang atau memilih cintaku?” Sontak menangislah para shahabat, tentu mereka merasa bersalah karena telah membandingkan harta dengan cinta dari Sang Kekasih Allah. Cinta Rasulullah melebihi apa yang ada di dunia dan seisinya. Dan sangat wajar apabila para shahabat menangis, lalu memilih cintanya Kanjeng Nabi. Itulah sifat para shahabat. Coba kalau kita, aku dan kalian semua, mungkin kita menjawab: “Yaa masak cinta doang Kanjeng Nabi? Mbok ya sama unta satu saja lo, cinta tok ya garing…

Ilustrasi: Merayakan Valentine? (Foto: desktopwallpaperses.blogspot.com)

Kalau kita amati, fenomena akhir-akhir ini banyak survey tiap tahun yang dilakukan oleh surat kabar terkenal yang menyebutkan bahwa banyak sekali konteks dan konsep yang dipahami secara salah oleh anak muda dan sebagian besar remaja di Indonesia dan dunia pada umumnya tentang perayaan Hari Valentine ini. Beberapa kali diadakan survey hasilnya memprihatinkan dan menakutkan.

Dari hasil survey tahun 2014 dari Alfatih Studio kepada 413 remaja menyebutkan bahwa, 26,4% para remaja merayakan Hari Valentine dengan makan-makan, jalan-jalan lalu dilanjutkan dengan berhubungan seks. Bahkan hasil survei tahun 2016 dari Kaltim Pos, 6 dari 35 remaja di Samarinda merayakan Valentine dengan seks bebas. Miris!

Baca juga: “Dampak Pornografi Pada Anak, Sepele? Anda Salah Besar!

Amerika Serikat sendiri tiap tanggal 14 Februari itu dirayakan sebagai The Nasional Kondom’s Day. Di Inggris tanggal itu dinyatakan sebagai The National Impotent’s Day.  Kalau sudah begitu, sebagai bangsa berbudaya luhur, akankah kita tertarik dan ikut-ikutan dengan momen seperti itu? Dengan demikian saya beropini bahwa terjadi pembelokan makna secara ngawur terhadap makna kasih sayang dalam Hari Valentine. Dan menjadi ngawur kuadrat jika kita ikut-ikutan melakukannya.

Kalau dikaitkan dengan ajaran agama, khususnya Islam, hal seperti itu adalah hal yang dilarang. Bukan berarti Islam adalah ajaran yang tidak berlinang kasih sayang, justru islam adalah agama yang menjadikan rasa cinta sebagai pilar pembangun ukhuwah bagi pemeluk-pemeluknya. Islam dengan tegas dan mengatur hukum bagaimana memilih cinta secara hakiki.

Jadi, apakah setiap tanggal 14 Februari pantas untuk kita dengungkan sebagai hari yang spesial? Betul, hari spesial, hari ekstra waspada. Waspada kepada anak-anak kita, waspada kepada pergaulan kita, karena tanggal 14 Februari adalah hari yang mengkhawatirkan dengan telah terjadinya banyak mudharat yang sudah kita bahas diatas.

Semoga tulisan ini mencerahkan akal sehat kita semua, untuk menjaga akhlak dan pola pikir generasi pembaharu bangsa.

Baca juga: “SMP Negeri 10 Surabaya Sosialisasikan Bahaya Pornografi Kepada Orangtua dan Siswa

Penulis : Yulistiawati/ @yulistyawati_
Editor : Nazilatul Maghfirah/ @zila_fira
Publisher : Dian Eko Restino/ @dian_eko_restino

21+

11 thoughts on “Merayakan Valentine’s Day???

  1. Hari Valentine itu kan perayaan tahunan yang dispesialin, jadi hari kasih sayang sama orang-orang dan menurut saya bebas seseorang mau merayakan hari itu atau enggak. Kalau saya sendiri enggak merayakan karena jomblo.

    4+
  2. Boleh saja jika kita merayakan hari valentine ini.Karena 14 Februari dirayakan oleh banyak orang di seluruh dunia sebagai hari valentine atau hari kasih sayang.Namun sebenarnya perayaan ini juga telah dirayakan sejak masa yang lebih lampau.Tetapi jangan terlalu berlebihan jika kita merayakan hari valentine ini.Sekian….Terima kasih

    5+
  3. Terimakasih pak… Karena menurut saya, umat islam tidak merayakan festival atau perayaan musliman apapun yang tidak dirayakan oleh nabi dan para sahabatnya dan hari Valentine adalah perayaan yang tidak memiliki dasar dalam hal yang berharga atau mulia.

    2+
  4. Terimakasih untuk artikel’nya…..menurut saya meraya’kan hari valentine atau hari kasih sayang itu tidak wajib bagi orang muslim.karena ada yang melakukan hari valentine itu secara berlebih’an,dampak dari hal itu dapat merusak diri’nya sendiri.lantas jika ada orang yang ingin melakukan’nya boleh saya asal tidak melakukan hal-hal yang berlebih’an.

    4+
  5. Terima kasih…pak atas artikel nya..
    Menurut saya merayakan hari valentine itu g di harus kan merayakan itu ataupun melakukan nya dengn hal yg berlebihan atau yg aneh”. Tdk apa”merayakan nya tetepi jgn berlebihan. Kebanyakan ank remaja merayakan ini dengn adab yg tak baik dan salh. Hari valentine adalah hari kasih sayang…hari kasih sayang itu tdk hanya setiap tgl 14 februari tetepi kasih sayang itu sepanjang masa.

    4+
  6. Terima kasih pak atas
    Artikelnya……
    Menurut saya hari Valentine’s
    Itu hari yang sangat menyenangkan
    Kita bisa melakukan hal baik di
    Hari Valentine’s ini
    Seperti… Berbagi makanan dengan teman (coklat) Dan hal yang lain yaitu hal yang baik,seperti hari Valentine’s ini adalah seperti hari
    Bentuk kasih sayang kepada
    Orang2 yang kita sayang
    Seperti keluarga kita mama, papa, adik, kakak menurut saya
    Hari Valentine’s ini sangat menyenangkan dalam keluarga
    Saya karena disitu kita mengartikan bahwa betapa….. Indahnya kebersamaan

    1+

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *